Tuesday, May 13, 2008

Mahalnya pendidikan...

Setelah sekian lama, akhirnya kesampean juga baca Laskar Pelangi. Buku yang bagus dan inspiratif. Dalam cerita tersebut tergambar dengan jelas bagaimana pendidikan yang diperoleh anak-anak mampu dan tidak mampu. Yang paling mengharukan adalah perjuangan seorang anak bernama Lintang. Untuk mencapai sekolahnya dia harus mengayuh sepeda sejauh 80 KM perjalanan bolak-balik. Hal itu belum ditambah dengan rintangan selama perjalanan. Seperti ban sepeda bocor, hujan, banjir, rantai putus, dll.
Ketika baca, aku langsung ingat betapa seringnya kita menyia-nyiakan kesempatan untuk bersekolah. Mulai dari tidak menyimak pelajaran yang ada sampai bolos. Bahkan ada juga yang masuk hanya pada saat ujian. Padahal biaya yang dikeluarkan untuk sekolah itu tidak sedikit dan banyak orang yang tidak dapat menikmatinya karena terbentur masalah ekonomi. Bisa dibilang pada saat baca novel tersebut, aku merasa tersindir. Karena terkadang aku juga suka titip absen sama temen. Ya begitulah pendidikan di Indonesia. Pendidikan dijadikan sebagai hal komersial untuk memperoleh keuntungan. Pemerintah sendiri sepertinya kurang perhatian dengan pendidikan di negeri ini. Semoga saja pendidikan di negeri ini dapat menjadi lebih baik...

Saturday, April 26, 2008

Ketika Tidak Suka


Suatu hari seorang penebang kayu kehilangan kapaknya. Dia mengira yang mengambil kapak tersebut adalah anak tetangganya. Hari itu dia melihat segala tingkah laku dan gaya bicaranya seperti seorang pencuri. Keesokan harinya ketika dia kembali ke tempat kemarin menebang kayu, dia menemukan bahwa kapaknya ada di sana. Ternyata dia meninggalkan kapaknya di sana. Ketika dia kembali ke rumahnya. Segala sesuatu yang dilakukan oleh anak yang dia kira sebagai pencuri tersebut biasa saja, tidak ada yang spesial.

Dari kisah diatas dapat dilihat bahwa ketika kita merasa tidak suka terhadap sesuatu (bisa orang, benda, keadaan tertentu, dll), segala sesuatu yang berhubungan dengan hal tersebut akan terlihat tidak kita sukai atau bahkan kita benci. Dapat dikatakan pada saat itu kita tidak dapat berpikir dengan jernih. Segala sesuatu yang kita pikirkan dipengaruhi oleh perasaan tidak suka tersebut. Inilah yang terkadang membuat kita bertindak secara tidak rasional (terbawa emosi).
Ketika berada pada situasi seperti ini yang harus kita lakukan adalah tetap tenang dan berusaha mencari solusinya. Kita harus melihatnya dari dua sisi, sisi positif dan negatif. Apa yang akan terjadi jika kita terus tidak suka terhadap hal tersebut? Dan apa yang akan terjadi jika kita membuatnya sebagai sesuatu yang kita sukai (bukan sesuatu yang kita benci)? Dalam hal ini kita tidak boleh hanya mengutamakan diri sendiri, tetapi harus mengutamakan kebaikan bersama. Sebab ketika tidak suka, kita dapat merusak segalanya...

Thursday, April 17, 2008

Situasi Kerja Tidak Kondusif

Bisa dibilang beberapa bulan belakangan ini, sedang ada persaingan di antara para pimpinan. Ditambah lagi dengan angka yang dicapai sekarang masih jauh dari target. Aksi saling menyalahkan sudah menjadi hal biasa. Jika satu unit/divisi ada masalah, maka bersiap-siaplah untuk membuat benteng pertahanan. Alasannya, untuk mengantipasi kalau-kalau mereke mencari kambing hitam. Belum lagi masalah pribadi diantara masing-masing individu. Situasi menjadi semakin menegangkan. Segala sesuatu dianggap sebagai ancaman. Semua tindak-tanduknya dicurigai. Kalau bisa pada saat berbincang-bincang pun direkam. Antisipasi jikalau perkataan kita diputarbalikkan. Sampai-sampai terkadang menimbulkan kesan mencari-cari kesalahan. Walaupun itu perang antar pimpinan, karyawan pun terkena dampaknya (yang seharusnya tidak terlibat). Karyawan pun diminta untuk berhati-hati dan selalu waspada. Jika sedang ngobrol dan ada pertanyaan-pertanyaan yang bisa dibilang berusaha mencari tau, harap untuk tidak dijawab atau jawab seperlunya saja. Jika pimpinan divisi lain mengajak ngobrol di saat pimpinan sudah pulang, sebisa mungkin untuk tidak memberikan informasi apapun, kalau perlu direkam juga.
Lingkungan kerja seperti ini sungguh tidak enak. Karyawan menjadi merasa tidak nyaman dan dapat membuat kinerja turun. Mungkin masuk kantor pun malas. Divisi yang seharusnya saling bekerjasama untuk mencapai target tersebut justru saling menjatuhkan dan saling serang. Bagaimana target mau tercapai jika cara kerjanya seperti itu. Dalam bekerja hal utama yang dibutuhkan adalah kerjasama. Jika tidak ada kerjasama maka hasil yang dicapai tidak akan maksimal. Mudah-mudahan saja, para pimpinan tersebut cepat sadar bahwa yang mereka lakukan mempengaruhi semua orang yang berada di sekitarnya.